Selasa, 09 Mei 2017

JEMBATAN BARITO

JEMBATAN BARITO MEMASUKI USIA 19 TAHUN
Image result for jembatan barito
Jembatan barito yang diresmikan oleh Presiden RI ke 2 Bapak Soeharto, tepatnya pada tanggal 24 April 1997 adalah merupakan kebanggaan masyarakat Kalimantan. Membelah Sungai Barito dan menghubungkan tepi barat Sungai Barito (Kecamatan Anjir Muara) dan tepi timur Sungai Barito di Kecamatan Alalak dekat kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.  Tepatnya di Kabupaten Barito Kuala, ± 15 km jauhnya dari  Banjarmasin,  salah  satu  kabupaten  di  provinsi  Kalimantan  Selatan  yang  berbatasan langsung dengan kota Banjarmasin.

Jembatan ini memiliki panjang 1.082 m lebar 10,37 m yang melintasi Sungai Barito selebar 800 m dan pulau kecil (Pulau Bakut) selebar 200 m terdiri dari jembatan utama panjang 902 m dengan jembatan pendekat 180 m ketinggian ruang bebas jembatan utama (clearance) yaitu 15 -18 meter. Tipe bangunan atas : Jembatan Gantung Sistem Kabel Ganda (Twin Suspension dengan Kabel Ganda), Tipe  Bangunan Bawah : Tiang Pancang Baja, metode pelaksanaan Heavy Lifting Kontraktor PT. Adhi Karya (Persero) dengan Biaya Rp. 98.000.000.000,00. mengadopsi  Golden  Gate  Bridge  San  Fransisco.

Konstruksi  Jembatan  Barito  berupa  twin  suspension  bridge  (dua  jembatan  gantung yang  berbentuk  kembar)  dengan  panjang  masing-masing  jembatan  gantung  tersebut  420,5 meter. Setiap bentangnya terdiri atas bentang utama sepanjang 240 meter dan jarak masing-masing tower dengan flanking span 90 m, PT. Adhi Karya menerapkan konstruksi semacam itu dengan tujuan untuk menekan biaya pondasi  serta  untuk menanggulangi lalu  lintas  yang  memerlukan  ruang bebas  cukup tinggi.

Bangunan  atas  jembatan  ditumpu  sejumlah pondasi  tiang pancang dengan  diameter 1.016 mm yang didalamnya diisi dengan beton bertulang dan didesain agar mampu menahan gaya horizontal yang cukup tinggi.

Tower terbuat dari 4 buah pipa baja dengan diameter masing-masing 600 mm yang dihubungkan dengan plat baja kualitas tinggi sehingga membentuk box kolom dan didalam pipanya  diisi  dengan  beton.  Bangunan  atas  jembatan  merupakan  konstruksi  rangka  baja galvanis yang dihubungkan dengan baut dan akan memikul lantai jembatan yang terbuat dari beton  bertulang  dengan  mutu  K-350.

Sedangkan  lantai  beton  jembatan  dipikul  oleh  plat galvanis dari baja. Fasilitas untuk pejalan kaki dibuat dari beton precast yang diletakkan di tepi kiri dan kanan jembatan. Pembangunan jembatan itu membutuhkan 1.850 ton baja dan diperkirakan jembatan tersebut sanggup bertahan hingga 100 tahun.

Banjarmasin  yang  berdimensi  lima  diarahkan  pembangunannya  sebagai  Kota Pemerintahan, Perdagangan,  Pelabuhan,  Industri  dan  Pariwisata.  Dalam  semua  upaya  tadi, Sungai  Barito  menduduki  tempat  yang  utama.

Kehidupan  di  kota  Banjarmasin  tidak terpisahkan  dari  Sungai  Barito  beserta  anak-anak  sungainya.  Terletak  dipertemuan  antara Sungai Barito dan Sungai Martapura, kota ini strategis sekali untuk perdagangan.

Berdirinya  Jembatan  Barito  membantu  mendukung  visi  kota  Banjarmasin  tersebut, jembatan gantung Barito yang berada di Kalimantan Selatan tersebut selain berfungsi sebagai penghubung  jalan  Trans  Kalimantan  Lintas  Selatan  juga  memberikan  akses  jalan  antara Banjarmasin  (Kalimantan  Selatan)  dengan  provinsi  tetangganya  yaitu  provinsi  Kalimantan Tengah (Palangkaraya) maupun sebaliknya.  Sebelum  adanya  jembatan  ini,  masyarakat  sangat  mengandalkan  jalur  transportasi sungai  menggunakan  speed  boat  atau  kapal  bermotor  untuk  menuju  ke  Banjarmasin  atau sebaliknya.  Saat  ini  Jembatan  Barito  telah  menjadi  sangat  vital  dalam  mendukung perekonomian  Kalimantan  Selatan  sekaligus  penghubung  daerah  ini  dengan  Kalimantan Tengah  dan  diharapkan  mendorong  peningkatan  pertumbuhan  ekonomi  di  daerah  semakin tinggi.

Setelah  terbangunnya  Jembatan  Barito  memberikan  kemudahan  kepada  masyarakat dari  segi  ekonomi,  waktu,  dan  jarak  tempuh.  Dari  segi  ekonomi,  dengan  terbangunnya jembatan, pengendara mobil tidak lagi membayar jasa penyeberangan yang umumnya lebih mahal  dan  jarak  tempuh  yang  lebih  panjang.  Dengan  menggunakan  jembatan,  masyarakat pun tidak lagi dibatasi oleh waktu untuk menyeberang. Berbeda dengan menggunakan kapal motor  ferry  yang  dibatasi  adanya  jam  istirahat,  sehingga  membatasi  pelayaran penyeberangan.  Selain  penghematan  uang,  waktu  dan  jarak  penyeberangan  masyarakat, pemerintah  daerah  juga  akan  mendapatkan  penerimaan  dari  jasa  penyeberangan  jembatan sebagai  bagian  dari  jalan  lintas  selatan  Trans  Kalimantan,  jalan  arteri  sepanjang  2800  km yang menghubungkan sebagian besar area di Kalimantan.

Selain itu, bagi masyarakat dengan terjadinya penurunan biaya penyeberangan maka akan muncul industri kecil mikro dan menengah di bidang jasa dan barang konsumsi serta mendorong  terbukanya  daerah-daerah  terisolasi  yang  sebelumnya  terbatas  jalur transportasinya.

Mengenai pemeliharaan Jembatan Barito, Menurut Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional VII, Bastian Sihombing, pengelolaan dan pembiayaan Jembatan Barito merupakan kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII Kalimantan. Pasalnya jembatan yang melintasi Sungai Barito tersebut merupakan jembatan yang terletak di ruas jalan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Kampung Inggris di Barito Kuala Kalsel

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jauh di luar pulau Jawa, terdapat sebuah kampung transmigrasi bernama Desa Karang Indah. Terletak di Kecamatan Ma...