Sabtu, 27 Mei 2017

Mengenal Kampung Inggris di Barito Kuala Kalsel

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jauh di luar pulau Jawa, terdapat sebuah kampung transmigrasi bernama Desa Karang Indah. Terletak di Kecamatan Madastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Image result for kampung inggris di batola
 Kampung ini menarik, karena anak-anak transmigran  yang tinggal disana semangat belajar bahasa Inggris.


Di kampung ini, memang terdapat aktivitas kursus Bahasa Inggris yang dipadukan dengan keunikan alam. Kampung ini mirip seperti kampung 'Bhineka Tunggal Ika', Semua kegiatan dilaksanakan secara bersama, gotong royong dengan swadaya masyarakat.
Image result for kampung inggris di batola

Kampung Inggris ini merupakan rintisan desa dari kawasan transmigrasi sehingga disebut juga dengan Kampung Inggris Transmigrasi. Kegiatan kursus Bahasa Inggris di kampung ini sudah dirintis sejak Oktober 2012, bahkan "soft launching" secara formal dilakukan awal November 2012. Para penduduknya yang merupakan transmigran berprofesi sebagai petani. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah budidaya komoditas Jeruk Siam.

Bagaimana mereka belajar bahasa Inggris di saat kegiatan mereka sehari-hari? rupanya, di kampung ini, terdapat 4 (empat) kelompok lokasi rumah penduduk yang disediakan secara sukarela. Kegiatan belajar ini dilaksanakan dengan fasilitas yang sederhana yaitu duduk bersama (lesehan) di teras rumah atau outdoor dilengkapi hanya dengan sebuah white board. Namun demikian anak-anak transmigran tetap semangat belajar, karena didukung dengan metode belajar yang santai, menyenangkan namun tetap serius.

Jumlah peserta secara keseluruhan saat ini sebanyak 95 siswa; terdiri atas 70 siswa setingkat SD dan 25 siswa setingkat SMP , yang seluruhnya merupakan anak transmigran yang berasal dari Desa Karang Indah dan Desa Karang Bunga.

Adapun sistematika pelaksanaannya adalah; coachs atau pelatih (2 orang) yang berasal dari lulusan BEC Pare Kediri Jawa Timur. Kedua orang ini bertugas sebagai pelatih dan memberi arahan kepada para tutor dalam melaksanakan kegiatan. Saat ini terdapat 4 (empat) orang tutor dengan kualifikasi lulusan S1 bahasa Inggeris. Dalam pelaksanaannya di lapangan para tutor didampingi oleh pendamping. Terdapat 20 (dua puluh) orang pendamping dan mereka pada umumnya adalah anak-anak SMA dari masyarakat sekitar. Yang menarik lagi, sampai saat ini para tutor dan pendamping bekerja secara volunteer tanpa digaji. Tak heran, jika Anda berkunjung ke kampung ini, beberapa anak transmigran sudah cas cis cus berbahasa Inggris.

Sebenarnya, terwujudnya Kampung Inggris Transmigrasi di Desa Karang Indah ini mempunyai arti yang strategis bagi masyarakat baik secara lokal maupun nasional. Apalagi kalau ini kemudian menjadi standardisasi pengajaran untuk daerah-daerah transmigrasi lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan adanya kampung Inggris transmigrasi di Desa Karang Indah ini membuktikan bahwa anak transmigran bukan anak tertinggal.

Pasar Ramadan Siring Marabahan Berpotensi Dijadikan Objek Wisata Kuliner dan Wadai Tradisional

Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Kalimat ini setidaknya dapat dibuktikan dengan bermunculannya aneka jenis wadai (kue) tradisional khas Banjar di bulan Ramadan.

Wadai-wadai yang rasanya nikmat dan disukai semua kalangan itu di antaranya seperti wadai sari muka, amparan tatak, kararaban, bingka kentang, bingka barandam, wadai lapis, apam pisang sagu, putri salat, kakicak, papari, kakoleh, lupis, poto mayang, dan lain-lain.
Entah apa sebabnya, wadai-wadai yang rasanya enak dan lezat ini sangat jarang dijumpai selain di bulan Ramadan.
Image result for pasar wadai marabahan
Bupati Barito Kuala (Batola) H Hasanuddin Murad saat membuka Pasar Wadai Ramadan 1437 Hijriyah di siring Jalan Tugu depan Kediaman Bupati, Senin (6/6/2016) sore, menyatakan sangat menyambut baik diadakannya Pasar Ramadan karena memiliki potensi cukup bagus dijadikan salah satu objek wisata, khususnya kuliner dan wadai tradisional.
Karena itulah, mantan anggota DPR RI itu berharap, pihak terkait agar mengelola potensi ini dengan baik.
Sementara para pedagang diminta memperhatikan jualan supaya lebih variatif dengan menggali resep-resep tradisional yang benar-benar merupakan khas daerah sehingga dapat menarik minat para pengunjung maupun wisatawan untuk datang mencicipi dan berbelanja.
Mengingat pasar Ramadan ini terfokus pada penyediaan makanan dan minuman untuk berbuka puasa, maka mantan Dosen Fakultas Hukum Unlam itu mengimbau beberapa hal kepada para pedagang, di antaranya memperhatikan kualitas bahan-bahan yang digunakan, termasuk memperhatikan daya tahan dan masa kadaluarsa.
Dalam membuat makanan, diimbau agar menghindari penggunaan campuran yang mengandung zat kimia seperti zat pengawet, pewarna atau pemanis buatan.
Jika terpaksa harus digunakan hendaknya memperhatikan takaran agar benar-benar sesuai ketentuan.
Seluruh masyarakat juga diminta agar senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan serta turut memelihara ketertiban dan keamanan demi kenyamanan dan ketenangan bersama.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporbudpar) Batola, H Mahali SH, mengatakan Pasar Wadai Ramadan diadakan bertujuan selain untuk mempromosikan objek wisata lokal serta media syiar Islam sekaligus dalam upaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat.
Mantan Sekretaris Dinas PU itu menerangkan, Pasar Wadai Ramadan 1437 Hijriyah di Marabahan ini terdapat 75 stand jualan masing-masing 25 untuk pedagang makanan, 25 untuk pedagang minuman, dan 25 untuk makanan siap saji, pedagang kurma, dan lain-lain.
Pembukaan Pasar Ramadan ini ditandai pengguntingan untaian melati oleh Ketua TP-PKK Batola Hj Noormiliyani AS Hasanuddin Murad disaksikan Bupati H Hasanuddin Murad, Wakil Bupati H Ma’mun Kaderi beserta isteri Hj Fauliah, Sekda Supriyono beserta isteri Hj Sri Wahyuningsih, para forkopinda, pimpinan BUMN, para kepala dinas, badan, kantor, dan undangan lainnya.
Usai pembukaan dilanjutkan dengan meninjau stand-stand jualan aneka masakan dan kue tradisional. (HUMPRO BATOLA)

Layanan Pendidikan di Barito Kuala Meningkat Drastis

Selama kepemimpinan Bupati H. Hasanuddin Murad, kualitas layanan pendidikan di Barito Kuala (Batola) meningkat pesat.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Batola, H. Sumarji ketika membina Apel Gabungan Perlindungan Masyarakat (Linmas) di halaman kantor Bupati Batola, Senin (16/3/2015). Ia mengatakan pihaknya terus berupaya memperhatikan layanan pendidikan, baik aspek sarana, mutu maupun ketersediaan penunjang layanan lainnya.
“Meningkatnya sarana sekolah ini menunjukan terjadinya peningkatan siswa yang bersekolah,” katanya seraya menyebutkan sampai 2014 ini, Kab. Batola telah membangun 10 buah Sekolah Dasar (SD), 18 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 15 Sekolah Menengah Atas (SMA).
Di hadapan seluruh peserta apel, termasuk Wakil Bupati Batola, H. Ma’mun Kaderi dan Sekretaris Daerah, H. Supriyono beserta seluruh jajaran asisten, staf ahli dan pejabat eselon II, III dan IV, Sumarji mengatakan beberapa program kegiatan yang telah dilaksanakan Disdik.
Selain meningkatkan sarana pendidikan, Sumarji menyebutkan pihaknya telah berupaya menambah jangkauan layanan pendidikan. Misalnya adalah pembangunan SD-SMP satu atap. “Selama kepemimpinan Bupati Barito Kuala, H. Hasanuddin Murad, Batola telah membangun 14 SD-SMP satu atap di 9 kecamatan,” jelasnya.
Menurut Kadisdik, setidaknya terdapat dua faktor didirikannya SD-SMP satu atap tersebut. Yakni faktor geografis agar siswa mudah menjangkau lokasi sekolah dan faktor ekonomis dalam upaya efisiensi.
Ia juga mengatakan selain upaya peningkatan layanan pendidikan, Disdik Batola juga berupaya meningkatkan kualitas mutu dan relevansi, seperti pembangunan laboratorium, perpustakaan, pemberian beasiswa miskin (BSM) dan peningkatan kepastian pelayanan pendidikan. (Humpro Batola/*)
Terkait#Dinas Pendidikan Barito Kuala#Barito Kuala

Rabu, 17 Mei 2017

Asal Usul Dayak Bakumpai

Dahulu kala, sungai Barito dari Muara Pulau sampai ke sebelah hilir Ujung Panti itu tidak ada. Waktu itu sungai Barito yang ada hanya Muara Pulau terus ke hulu sana. Dari Muara Pulau itu kalau orang hendak ke Banjar atau orang Banjar hendak ke Barito terpaksa belok ke sungai Kahayan, yang hanya satu-satunya lalu lintas air Banjar – Barito.

Pada waktu itu hulu Sungai Barito sana ada sebuah kampung yang bernama Air Manitis, yang didiami oleh suku bangsa Dusun Biaju. Suku itu diperintah oleh seorang kepala suku yang mempunyai dua orang anak kembar kemanikan (laki-laki dan perempuan). Anak yang tua laki-lakai namanya Patih Bahandang Balau. Ia diberi nama demikian, karena rambutnya (balau) merah (bahandang) seperti rambut orang Belanda, sedangkan nama Patih itu bukan nama jabatan akan tetapi memang namanya. Anaknya yang kecil perempuan yang diberi nama Datu Sadurung Malan. Ia dinamakan demikian karena kelihatannya ia seperti memakai kerudung (tutup kepala) yang biasanya dipakai oleh perempuan yang sedang bertani (malan), sedangkan nama Datu bukan datu yang berarti orang tertua dari nenek, tetapi memang namanya demikian.

Datu Sadurung Malan sangat cantik parasnya, sehingga banyak pemuda yang ingin memperistrinya. Karena parasnya sangat cantik sehingga kakaknya jatuh cinta padanya. Pernah sekali ia bersama berada di sawah, pada waktu itu kakaknya mengatakan bahwa ia ingin memperistrinya. Tentu saja Datu Sadurung Malan tidak akan mau kawin dengan kakaknya sendiri. Setelah kejadian itu Datu Sadurung Malan tidak lagi pergi ke sawah bersama kakaknya, kecuali kalau ada ayahnya, baru ia berani.

Hari terus berjalan, Patih Bahandang Balau makin bertambah keinginannya untuk memperistrikan adiknya. Orang tua mereka tidak mengetahui persoalan mereka berdua. Tidak kuat menahan hatinya lagi, maka Pathi Bahandang Balau mengancam hendak membunuh adaiknya kalau ia tidak mau kawin dengannya. Mendengar ancaman kakaknya itu, Datu Sadurung Malan berfikir hendak pergi jauh. Waktu tengah malam ketika kakak dan ayahnya sedang tidur, ia pergi ke luar rumah dan terus turun ke sungai masuk ke dalam perahunya. Sesudah tali sampannya lepas, dikayuhnya sampannya perlahan. Hatinya terasa lega ketika ia telah jauh dari rumah. Dengan perasaan hati yang lega dipercepatnya kayuhannya, dan bermaksud hendak ke Banjar dan terus ke Jawa.

Sampai di Muara Pulau, ia tidak mau belok ke sungai Kahayan, karena ia takut kalau dikejar-kejar kakaknya. Dibuatnyalah jalanan sendiri. Ditariknya sampannya sehingga terbentuk sungai kecil. Pada mulanya memang belum ada airnya, tetapi lama kelamaan berair juga karena hujan, hingga akhirnya terbentuk sungai yang banyak dilalui orang. Demikianlah sungai itu bertambah lama bertambah besar dan sampai sekarang dinamai orang Sungai Barito.

Setelah Datu Sadurung Malan sampai ke Banjar, kemudian ia menumpang kapal yang menuju ke pulau Jawa, sedangkan kakaknya Patih Bahandang Balau, sesudah mengetahui adiknya tidak lagi di rumah dan mulai menginsafi dirinya. Untuk menghibur hatinya yang sakit ia beristri dengan seorang perempuan di kampungnya, sampai beranak cucu. Anak cucunya sampai saat ini masih ada yang sekarang menjadi orang Barito atau orang Dusun Biaju.

Setelah Datu Sadurung Malan mendengar kakaknya sudah mempunyai istri, ia kembali ke Kalimantan. Sebelumnya ia sudah bersuami dan beranak cucu. Anak cucunya hendak dibawanya ke Air Manitis kembali. Ia heran melihat bekas jalannya dahulu ramai menjadi lalu lintas orang. Ia hendak mendirikan rumah di situn, kemudian ia menaruh ayam jantan ke arah matahati terbit, tetapi ayam itu tidak mau berkokok. Sesudah dihadapkan ke arah seberangnya, ayam itu mau berkokok, ia mempercayai bahwa itulah tandanya kalau tanah disitu baik untuk dibangun rumah. Dibuatnyalah rumah di sana, sampai akhirnya banyak orang tinggal di situ. Sampai sekarang kampung itu masih ada yang sekarang dinamai Kampung Bakumpai atau Kota Marabahan sekarang.

Seperti itulah asal usul terjadinya sungai Barito, kampung Bakumpai dan kampung orang Dusun. (Ibrahim, dkk, 1979:98-99)

Kisah tentang Patih Bahandang Balau ini nampaknya menceritakan beberapa hal, yakni:

Asal usul orang Bakumpai,
Larangan insest dalam suku bangsa Dayak, yakni larinya Datu Sadurung Malan yang tidak mau diperistrikan oleh kakaknya,
Asal mula kejadian sungai Barito,
Tempat asal usul orang Bakumpai, yakni Kampung Bakumpai di Kota Marabahan sebagai ibukota Kabupaten Barito Kuala, dan
Hubungan persaudaraan antara Dayak Bakumpai dan Dayak Dusun Biaju.
Kalau ditanyakan kepada orang Bakumpai, asal-usul nenek moyang mereka dan tempat asalnya, mereka pada umumnya mengatakan berasal dari Marabahan, tepatnya dari salah satu kampung di kota Marabahan sekarang ini, yang dulu disebut lebu Bakumpai ‘kampung Bakumpai’. Ada yang mengatakan bahwa kampung itu ialah kampung Bagus sekarang ini. Nama Bakumpai ini diabadikan, yang meliputi wilayah kota Marabahan dan sekitarnya. (Ibrahim, dkk, 1979:2) [6]

Silsilah Dayak Bakumpai[sunting | sunting sumber]

Minggu, 14 Mei 2017

Pulau Bakut

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARITOKUALA - Kalimantan Selatan memiliki sebuah pulau tempat habitat asli monyet khas Kalimantan, yaitu bekantan. Pulau tersebut bernama Bakut.

Pulau ini menjadi bagian dari Kabupaten Baritokuala, Kalimantan Selatan. Posisi pulau ini di bawah Jembatan Barito, jembatan kebanggaan warga Kalimantan Selatan.
Pulau kecil ini berupa hutan, tanahnya becek dan ditumbuhi berbagai tanaman liar. Di sinilah para bekantan itu tinggal.
Pulau ini kerap menjadi destinasi wisata bagi para pelancong. Daya tariknya adalah kehidupan liar para bekantan itu. Bekantan tergolong berbeda dari hewan-hewan jenis primata lainnya seperti kera, lutung, orangutan, dan lain-lain.
Hewan yang satu ini memiliki hidung panjang yang berwarna merah. Bulunya ada yang berwarna coklat muda ada juga yang agak putih. Bekantan sejak lama menjadi maskot Kalimantan Selatan.
Kini, hewan ini dilindungi sehingga habitatnya tak boleh diganggu. Namun wisatawan boleh saja melihat langsung hewan ini dengan mengunjungi habitat aslinya.
Hewan-hewan ini biasanya bergelantungan di pepohonan di pulau tersebut. Jika cuaca cerah, mereka kerap bertebaran di bawah pohon.
Namun jika cuaca mendung atau hujan, mereka tak tampak. Walau begitu, tetap ada saja beberapa ekor yang masih tampak bergelantungan di pohon. Para wisatawan bisa dengan bebas menyaksikan mereka di pulau ini.
Pulau ini dijadikan daerah konservasi bekantan dan cocok pula bagi wisatawan yang memiliki minat khusus, yaitu menanam untuk turut menjaga kelestarian alam dan fotografi alam liar.
Tiap hari ada saja wisatawan yang berkunjung ke sana. Mereka tak sekadar melihat aksi gelantungan para bekantan, namun ada juga yang melakukan penanaman pohon.

Selasa, 09 Mei 2017

JEMBATAN BARITO

JEMBATAN BARITO MEMASUKI USIA 19 TAHUN
Image result for jembatan barito
Jembatan barito yang diresmikan oleh Presiden RI ke 2 Bapak Soeharto, tepatnya pada tanggal 24 April 1997 adalah merupakan kebanggaan masyarakat Kalimantan. Membelah Sungai Barito dan menghubungkan tepi barat Sungai Barito (Kecamatan Anjir Muara) dan tepi timur Sungai Barito di Kecamatan Alalak dekat kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.  Tepatnya di Kabupaten Barito Kuala, ± 15 km jauhnya dari  Banjarmasin,  salah  satu  kabupaten  di  provinsi  Kalimantan  Selatan  yang  berbatasan langsung dengan kota Banjarmasin.

Jembatan ini memiliki panjang 1.082 m lebar 10,37 m yang melintasi Sungai Barito selebar 800 m dan pulau kecil (Pulau Bakut) selebar 200 m terdiri dari jembatan utama panjang 902 m dengan jembatan pendekat 180 m ketinggian ruang bebas jembatan utama (clearance) yaitu 15 -18 meter. Tipe bangunan atas : Jembatan Gantung Sistem Kabel Ganda (Twin Suspension dengan Kabel Ganda), Tipe  Bangunan Bawah : Tiang Pancang Baja, metode pelaksanaan Heavy Lifting Kontraktor PT. Adhi Karya (Persero) dengan Biaya Rp. 98.000.000.000,00. mengadopsi  Golden  Gate  Bridge  San  Fransisco.

Konstruksi  Jembatan  Barito  berupa  twin  suspension  bridge  (dua  jembatan  gantung yang  berbentuk  kembar)  dengan  panjang  masing-masing  jembatan  gantung  tersebut  420,5 meter. Setiap bentangnya terdiri atas bentang utama sepanjang 240 meter dan jarak masing-masing tower dengan flanking span 90 m, PT. Adhi Karya menerapkan konstruksi semacam itu dengan tujuan untuk menekan biaya pondasi  serta  untuk menanggulangi lalu  lintas  yang  memerlukan  ruang bebas  cukup tinggi.

Bangunan  atas  jembatan  ditumpu  sejumlah pondasi  tiang pancang dengan  diameter 1.016 mm yang didalamnya diisi dengan beton bertulang dan didesain agar mampu menahan gaya horizontal yang cukup tinggi.

Tower terbuat dari 4 buah pipa baja dengan diameter masing-masing 600 mm yang dihubungkan dengan plat baja kualitas tinggi sehingga membentuk box kolom dan didalam pipanya  diisi  dengan  beton.  Bangunan  atas  jembatan  merupakan  konstruksi  rangka  baja galvanis yang dihubungkan dengan baut dan akan memikul lantai jembatan yang terbuat dari beton  bertulang  dengan  mutu  K-350.

Sedangkan  lantai  beton  jembatan  dipikul  oleh  plat galvanis dari baja. Fasilitas untuk pejalan kaki dibuat dari beton precast yang diletakkan di tepi kiri dan kanan jembatan. Pembangunan jembatan itu membutuhkan 1.850 ton baja dan diperkirakan jembatan tersebut sanggup bertahan hingga 100 tahun.

Banjarmasin  yang  berdimensi  lima  diarahkan  pembangunannya  sebagai  Kota Pemerintahan, Perdagangan,  Pelabuhan,  Industri  dan  Pariwisata.  Dalam  semua  upaya  tadi, Sungai  Barito  menduduki  tempat  yang  utama.

Kehidupan  di  kota  Banjarmasin  tidak terpisahkan  dari  Sungai  Barito  beserta  anak-anak  sungainya.  Terletak  dipertemuan  antara Sungai Barito dan Sungai Martapura, kota ini strategis sekali untuk perdagangan.

Berdirinya  Jembatan  Barito  membantu  mendukung  visi  kota  Banjarmasin  tersebut, jembatan gantung Barito yang berada di Kalimantan Selatan tersebut selain berfungsi sebagai penghubung  jalan  Trans  Kalimantan  Lintas  Selatan  juga  memberikan  akses  jalan  antara Banjarmasin  (Kalimantan  Selatan)  dengan  provinsi  tetangganya  yaitu  provinsi  Kalimantan Tengah (Palangkaraya) maupun sebaliknya.  Sebelum  adanya  jembatan  ini,  masyarakat  sangat  mengandalkan  jalur  transportasi sungai  menggunakan  speed  boat  atau  kapal  bermotor  untuk  menuju  ke  Banjarmasin  atau sebaliknya.  Saat  ini  Jembatan  Barito  telah  menjadi  sangat  vital  dalam  mendukung perekonomian  Kalimantan  Selatan  sekaligus  penghubung  daerah  ini  dengan  Kalimantan Tengah  dan  diharapkan  mendorong  peningkatan  pertumbuhan  ekonomi  di  daerah  semakin tinggi.

Setelah  terbangunnya  Jembatan  Barito  memberikan  kemudahan  kepada  masyarakat dari  segi  ekonomi,  waktu,  dan  jarak  tempuh.  Dari  segi  ekonomi,  dengan  terbangunnya jembatan, pengendara mobil tidak lagi membayar jasa penyeberangan yang umumnya lebih mahal  dan  jarak  tempuh  yang  lebih  panjang.  Dengan  menggunakan  jembatan,  masyarakat pun tidak lagi dibatasi oleh waktu untuk menyeberang. Berbeda dengan menggunakan kapal motor  ferry  yang  dibatasi  adanya  jam  istirahat,  sehingga  membatasi  pelayaran penyeberangan.  Selain  penghematan  uang,  waktu  dan  jarak  penyeberangan  masyarakat, pemerintah  daerah  juga  akan  mendapatkan  penerimaan  dari  jasa  penyeberangan  jembatan sebagai  bagian  dari  jalan  lintas  selatan  Trans  Kalimantan,  jalan  arteri  sepanjang  2800  km yang menghubungkan sebagian besar area di Kalimantan.

Selain itu, bagi masyarakat dengan terjadinya penurunan biaya penyeberangan maka akan muncul industri kecil mikro dan menengah di bidang jasa dan barang konsumsi serta mendorong  terbukanya  daerah-daerah  terisolasi  yang  sebelumnya  terbatas  jalur transportasinya.

Mengenai pemeliharaan Jembatan Barito, Menurut Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional VII, Bastian Sihombing, pengelolaan dan pembiayaan Jembatan Barito merupakan kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII Kalimantan. Pasalnya jembatan yang melintasi Sungai Barito tersebut merupakan jembatan yang terletak di ruas jalan nasional.

Minggu, 07 Mei 2017

Rumah Abunawas

Ini Alasan Pemilik 'Rumah Abunawas' di Handil Bakti Tak Menyelesaikan Rumahnya

Rabu, 26 April 2017 12:13
Ini Alasan Pemilik 'Rumah Abunawas' di Handil Bakti Tak Menyelesaikan Rumahnya
banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti
Rumah milik seorang dokter yang ramai disebut sebagai 'Rumah Abunawas' di Handil Bakti Barito Kuala.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rumah desain ala Eropa yang berada dipinggiran jalan Trans Kalimantan desa Handil Bakti, Barito Kuala semakin ramai saja diperbincangkan oleh media.
Rumah Abu Nawas yang depannya layaknya bangunan Yunani kuno itu namun pada bagian belakang hanya bangunan papan ternyata milik seorang Psikiater sekaligus mantan direktur di dua rumah sakit yang ada di Banjarmasin.
Seorang Spesialis penyakit kejiwaan, Dokter Asyikin Noor si empunya rumah mengatakan kalau rumah Abu Nawas tersebut dulunya ditinggali oleh supir pribadinya, Rabu (26/4/2017).
Rumah dr Asyikin pemilik rumah Abunawas
Rumah dr Asyikin Noor,  pemilik rumah 'Abunawas' (banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)
Ternyata Asyikin mengatakan kalau rumah itu memang sengaja tidak dirampungkan. Rendahnya daya sewa dan tidak adanya yang mendiami rumah itu membuat Asyikin menghentikan pembangunan rumah tersebut.
"Sengaja tidak saya selesaikan, karena disana daya sewa rendah, kalau di Banjarmasin daya sewa satu bangunan tinggi, jadi saya lanjut membuat di Banjarmasin," ungkap Asyikin saat ditemui Bpost Online di tempat prakteknya Jalan Sulawesi, Banjarmasin.  (Banjarmasinpost.co.id/ Isti Rohayanti)

Asal Mula Nama Marabahan



Marabahan adalah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten ini merupakan satu-satunya kabupaten yang 100% rawa-rawa, seluruh wilayahnya terletak di daerah aliran sungai Barito.
Asal nama Marabahan memiliki dua versi cerita. Versi pertama adalah sebagai berikut : nama Marabahan berasal dari kata Muara Bahan, karena letaknya di persimpangan sungai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Nagara. Setiap musim hujan air bah yang sampai ke Muara Bahan selalu membawa kayu-kayu hutan di hulu Barito yang hanyut sampai ke hilir.
Oleh masyarakat setempat kayu-kayu ini diambil dan disimpan, saking banyaknya sehingga daerah ini terkenal dengan nama asal bahan-bahan kayu. Sehingga setiap orang menyebut daerah ini dengan Muara Bahan. Akhirnya setelah mengalami beberapa perubahan kata menjadilah nama Marabahan sebagai sebutan daerah tersebut.
Versi kedua adalah sebagai berikut :
Pada jaman dahulu di daerah hulu sungai yaitu disekitar Kandangan, tumbuh sebuah pohon ulin (kayu besi) yang sangat tinggi dan besar. Pada mulanya, masyarakat di sekitar pohon ulin merasa tidak terganggu, namun sejak kehadiran seekor burung besar yang bersarang di pohon tersebut, masyarakat merasa terganggu dengan suara burung yang terus memkik sepanjang malam. atas kesepatan masyarakat, akhirnya diputuskan pohon ulin tersebut di tebang dengan harapan burung besar tersebut akan berpindah.
dimulailah penebangan pohon ulin oleh masyarakat dengan alat tardisional. Karena pohon yang ditebang sangat besar, penebangan memakan waktu berminggu-mingu, namun masyarakat terus berupaya sampai akhirnya pohon ulin tersebut tumbang ke arah selatan. Saking tingginya pohon tersebut pucuknya sampai menimpa daerah yang sekarang dinamanakan Marabahan. Artinya daerah ini mengalami "karabahan" pohon ulin. Tempat tumbuhnya pohon ulin tersebut sekarang dinamakan Kampung Ulin, yaitu sekitar 7 km arah barat Kandangan.
Demikian legenda nama asal mula Marabahan, terlepa dari benar tidaknya cerita ini, Wallahu 'alam.

Mengenal Kampung Inggris di Barito Kuala Kalsel

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jauh di luar pulau Jawa, terdapat sebuah kampung transmigrasi bernama Desa Karang Indah. Terletak di Kecamatan Ma...